Negara Para Pelupa dan Refleksi Moral Aceh
Negara Para Pelupa dan Refleksi Moral Aceh
Ada jenis pemimpin yang begitu yakin dirinya pintar —
padahal dia hanya lihai menyusun alasan atas kebodohannya sendiri.
Ia bicara seolah mengerti negara, padahal konsep negara milik rakyat saja tak dipahami.
Baginya, rakyat hanya angka di kertas, suara di bilik, dan tepuk tangan di panggung.
Ia tak paham bahwa memimpin itu bukan sekadar menandatangani anggaran,
tapi membaca arah bangsa, menata akal manusia, dan menumbuhkan martabat.
Kalau ia tak tahu siapa yang mengerti dan siapa yang berpikir hanya untuk dirinya,
bagaimana mungkin ia bisa menuntun rakyat menuju cahaya?
Yang lebih lucu — mereka membuat piramida kekuasaan tanpa fondasi sumber daya manusia.
Yang duduk di atas, sibuk mempertahankan kursi;
yang di bawah, sibuk menunggu remah.
Hasilnya? Negeri penuh rapat tapi minim hasil, penuh proyek tapi kosong makna.
Kalau ini terus dibiarkan, maka daerah dan negara hanya memelihara kebodohan yang diwariskan secara resmi.
Rakyat disuruh bersabar, padahal yang sabar itu cuma dompet mereka yang tak pernah penuh.
Sementara pemimpin berpidato tentang pembangunan —
yang entah membangun apa, selain ilusi keberhasilan.
---
Refleksi Moral Aceh
Bangsa yang lupa akar akan tumbang oleh angin kecil.
Aceh pernah berdiri tegak bukan karena kekayaan, tapi karena martabat.
Dulu, seorang pemimpin tak perlu banyak janji — cukup jujur, cukup adil, dan rakyat akan ikut.
Kini, terlalu banyak yang ingin jadi pemimpin tapi tak paham arti memimpin.
Pemimpin sejati bukan yang dikelilingi penjilat,
tapi yang berani dikelilingi orang jujur meski disanggah.
Bukan yang menunggu tepuk tangan,
tapi yang rela dicaci demi kebenaran.
Aceh tidak butuh pahlawan baru,
yang Aceh butuh adalah jiwa bersih dan kepala yang berpikir.
Karena selama yang memimpin lebih sibuk menjaga kursi daripada menjaga amanah,
maka damai hanya akan jadi spanduk, bukan kenyataan.
Dan kepada mereka yang masih ingat bahwa Aceh lahir dari darah dan doa —
bangkitlah bukan untuk berkuasa,
tapi untuk menyembuhkan bangsa.
Sebab merdeka bukan sekadar bendera berkibar,
tapi akal yang tak bisa dibeli dan hati yang tak bisa ditaklukkan.
📘 Tarmidinsyah Abubakar – Aceh Bangkit Institute

Komentar
Posting Komentar