Aceh Mau Belajar Tani, Salah Belajar Dari Indonesia, Yang Wajar Belajar Dari Amerika

 



Petani Amerika Kaya, Petani Indonesia Melarat: Saatnya Aceh Belajar dari Dunia Maju


Banyak orang di negeri ini percaya bahwa nasib petani memang harus begitu: miskin, sederhana, hidup pas-pasan. Padahal kenyataannya berbeda jauh kalau kita melihat ke bangsa lain yang lebih maju. Saya sendiri pernah menyaksikan dengan mata kepala bagaimana kehidupan petani di Amerika Serikat. Dari situ saya tahu, masalah petani kita bukan soal tanah, bukan soal kerja keras, tapi soal sistem yang membodohi rakyat kecil.


Pengalaman Nyata di Chicago


Saya pernah tinggal di rumah keluarga petani di negara bagian Chicago, namanya Pak Albert dan Bu Nancy. Mereka hanya berdua mengelola 300 hektar lahan pertanian. Anak mereka bahkan tidak ikut membantu di ladang, karena memilih profesi lain di bidang pengelolaan air. Tidak ada buruh tani berderet-deret seperti di desa-desa kita. Yang bekerja hanyalah mesin, dan mereka mengelola dengan tenang, tanpa tekanan dari tengkulak atau pejabat.


Rumah mereka luas, mobil ada, buku-buku mereka lebih banyak dari pejabat pragmatis di negeri ini. Hidupnya mapan, tenang, dan yang lebih penting: mereka dihormati sebagai penyedia pangan bagi masyarakat. Bayangkan, petani yang memberi makan rakyat sekaligus pejabat, bukan petani yang harus memohon belas kasihan untuk bisa menyekolahkan anaknya.


Rahasia Kemakmuran Petani Amerika


Apa rahasianya? Sederhana: sistem.


Bank datang ke petani, bukan petani yang memohon ke bank. Pak Akbert tidak meminta kredit, justru bank yang menawarkan fasilitas pembiayaan agar tanah bisa dimiliki dan produktif.


Mekanisasi total. 300 hektar cukup diurus suami-istri dengan mesin. Bandingkan dengan petani kita yang harus bekerja dengan cangkul di sawah sempit, ditemani buruh tani yang upahnya pun tak seberapa.


Harga yang adil. Hasil pertanian dihargai dengan layak. Ada jaminan pasar, ada perlindungan harga, ada subsidi tepat sasaran.



Nasib Petani Indonesia


Sekarang mari kita lihat petani di negeri sendiri. Banyak yang punya tanah warisan, tapi tanpa dukungan modal. Kalau pun ada bank, bukan mendukung tapi malah menjebak dengan bunga dan kredit macet. Harga gabah ditekan oleh tengkulak, pupuk disubsidi tapi sering bocor, teknologi nyaris tidak masuk ke desa.


Alhasil, petani kita hanya jadi korban sistem. Mereka menghasilkan makanan, tapi tetap lapar. Mereka bekerja keras, tapi tidak bisa mengirim anak ke universitas. Ironisnya, para pejabat yang makan dari hasil kerja petani justru hidup berlimpah, sementara petani tetap melarat.


Aceh Pernah Berhubungan dengan Dunia Maju


Banyak orang lupa, Aceh sebenarnya punya sejarah panjang dengan bangsa-bangsa besar. Pada abad ke-19, kerajaan Aceh sudah berhubungan dengan Amerika dan Inggris. Itu bukti bahwa Aceh pernah dipandang sebagai bangsa yang bermartabat, bukan bangsa bodoh. Tapi sekarang, kita malah terjebak dalam sistem politik Jakarta yang menjadikan partai sebagai serdadu, bukan sebagai pelayan rakyat.


Kenapa kita harus terus di-Indonesiakan dengan kebodohan yang dipelihara? Kenapa kita tidak belajar dari bangsa maju yang dulu pernah menghargai kita?


Pelajaran Penting


Perbedaan agama atau budaya bukanlah masalah. Amerika maju bukan karena kulit atau agamanya, tapi karena sistemnya yang menghormati rakyat kecil. Petani dihormati, buruh dihargai, ilmu pengetahuan jadi pegangan. Itulah yang membuat mereka kuat.


Aceh seharusnya bisa mengambil pelajaran itu. Kita tidak harus menjadi Amerika, tapi kita bisa belajar cara mereka memperlakukan rakyatnya. Kalau mau tahu seberapa maju sebuah bangsa, lihatlah wajah petaninya, bukan gedung DPR-nya.


Penutup


Hari ini, petani di Amerika bisa hidup kaya raya, sementara petani di Indonesia masih melarat. Itu bukan karena petani kita bodoh, tapi karena sistemnya memang membodohi. Kalau Aceh ingin bangkit, kita harus berani berhijrah dari sistem usang menuju sistem yang memuliakan rakyat.


Karena pada akhirnya, bukan pejabat yang memberi makan bangsa ini. Petanilah yang memberi makan pejabat.


Komentar

Postingan Populer