SIAPA BODOH, SIAPA PANDAI DALAM POLITIK BERNEGARA JUGA BERDAERAH
Siapa yang Bodoh dan Siapa yang Pandai dalam Politik?
Hari ini, politik sering kali dipelintir seakan-akan permainan orang pandai. Padahal, kalau kita buka mata, justru banyak yang mengaku pandai tapi sebenarnya bodoh—lebih bodoh lagi karena membodohi rakyat.
Negara demokrasi tapi dipimpin dengan gaya otoriter, apa itu tanda kepandaian?
Negara yang seharusnya milik rakyat, tapi dianggap milik kelompok tertentu, apa itu tanda kecerdasan?
Itu bukan tanda orang pandai, tapi tanda orang serakah yang memakai topeng kepandaian.
Selama ini orang-orang yang dipilih rakyat merasa sukses. Mereka bangga duduk di kursi kekuasaan, seakan itu bukti kecerdikan mereka. Padahal, tahukah anda, rakyat memilih mereka justru dalam ketidaktahuan.
Rakyat sudah terlalu lama dibodohkan sebelum demokrasi benar-benar menyentuh negeri ini. Demokrasi hanya dijadikan alat legitimasi, bukan sebagai jalan kedaulatan rakyat.
Akibatnya, rakyat melihat oposisi sebagai pengacau, sebagai musuh pembangunan. Padahal, oposisi adalah bagian dari demokrasi, ruang koreksi agar kekuasaan tidak buta arah.
Di sinilah letak kebodohan yang terus dipelihara: rakyat dibiarkan miskin, dibiarkan tidak berpendidikan politik, agar tetap menjadi pengikut buta pemerintah. Penguasa merasa aman, karena rakyat yang bodoh adalah benteng kekuasaan mereka.
Tapi kebodohan tidak akan bisa dipelihara selamanya. Ketika rakyat mulai sadar, saat itulah yang berkuasa akan berhadapan dengan badai besar.
Contoh paling dekat adalah Aceh. Mungkin presiden bisa kasih pabrik sawit kepada adiknya, mungkin mereka anggap itu investasi keluarga. Tapi rakyat Aceh tidak selamanya diam. Rakyat akan paham apa makna dari investasi yang hanya menguntungkan keluarga, sementara tanah dan hasil bumi bukan dinikmati rakyat banyak.
Itulah bedanya orang pandai dan orang bodoh dalam politik:
– Orang pandai memimpin rakyat dengan jujur, membesarkan negeri untuk semua.
– Orang bodoh merasa pandai, tapi justru memperkecil negeri, menjadikan negara milik kelompok dan keluarga.
Parahnya, yang bodoh itu malah merasa paling pandai.
Komentar
Posting Komentar